Perjalanan Terakhir

“When you love someone you got to learn to let them go”

Sepenggal lirik dari lagu yang dinyanyikan Stevie B ini sederhana namun bermakna dalam. Setiap kali menghadapi perpisahan, bait ini menjadi refleksi buat saya…menjadi renungan …menjadi doa…agar diri ini belajar menghadapinya.

Perpisahan pertama dan terberat saya (kala itu) adalah dengan sebuah nama. Nyoman Sidja, nenek, orang tua, guru saya. Berat buat saya karena di hari-hari terakhirnya, saya tidak mengupayakan diri saya untuk pergi membesuknya. Saya biarkan diri saya tenggelam dalam kesibukan. Bukannya lupa pulang dan menyemangati hari-hari sakitnya….tapi banyak hal yang menurut saya waktu itu harus didahulukan. Namun sang waktu punya pilihan sendiri. Berita kepergiannya hanya saya ratapi dari jauh. Tapi saya masih bersyukur bisa melihat raganya untuk yang terakhir kali sebelum abunya bersatu dengan semesta. Buat saya, nenek  adalah perempuan terhebat. Ibu dari 10 putra-putri, ia besarkan dengan tangannya sendiri, ia hafal setiap cerita dan detail dari kami…kapan otonan kami….apa kisah dari masing-masing kami….hafal setiap upacara yang menjadi kewajiban kami…hafal setiap ritual yang mengiringi kami…hafal semua…tidak pernah ia lupa….bahkan sampai akhir hayatnya…

Perpisahan selanjutnya adalah dengan karib saya….sama2 relawan waktu di Jogja sana. Sekian lama bekerjasama dengannya….ada satu hari dimana saya merasakan bahwa hari itu adalah hari paling membahagiakan untuknya. Hari di mana senyumnya lebih lebar…tertawanya lebih lepas….sapaannya lebih hangat….makannya lebih banyak.. Esok harinya saya mendengar berita kepulangannya, beberapa jam setelah gempa Jogja tahun 2006. Ditengah hari2 menata puing rumah kami…kami harus menata hati kami untuk belajar sambil terus mengingat senyum, tawa dan sapaan terakhirnya.

Perpisahan selanjutnya (mungkin kata perpisahan lebih nyaman kalau diganti dengan pembelajaran)….pembelajaran selanjutnya adalah dengan putra pertama saya….tidak banyak yang tahu…namun sungguh pembelajaran ini bermakna paling dalam….baru sekitar 6 minggu usianya di dalam rahim tapi saya iklaskan karena Sang Empunya hidup yang merawatnya sekarang…..”putramu bukanlah putramu mereka adalah putra-putri kehidupan..” demikian petikan kalimat Kahlil Gibran yang membantu saya untuk membendung air mata. Saya merasa bisa mengatasi fisik saya tapi jiwa saya hancur dan kepingannya terus mengalir lewat air mata. “Buka hatimu Tuhan datang” begitu pujian pengkhotbah yang masih saya ingat betul…tapi mata air mata saya masih harus diteteskan…..beberapa bulan saya tenggelam dalam kesedihan, utamanya karena saya merasa tidak melakukan yang terbaik dari apa yang saya bisa lakukan untuknya saat itu….namun ada pembelajaran berikutnya yang benar2 bisa membendung mata ini.

Suatu hari di lift saya bersua dengan kolega kerja saya….sepertinya ia baru pulang dari shift malam dan saya baru masuk untuk shift pagi….lelah tampak di wajahnya….rutinitas pikir saya penyebabnya. Beberpa hari kemudian kabar duka untuk kami tentangnya. Sakit yang sudah lama ia derita membuatnya pulang lebih cepat dari kami. Waktu itu saya berpikir tentang ayah ibunya….bagaimana perasaannya kehilangan putrinya, sahabat kami,….pasti ada rasa mengapa tidak kami orangtuanya yang lebih dulu…bukankah harusnya anak2 yang mendoakan orangtuanya yang berpulang bukan sebaliknya….pikiran yang saya refleksikan pada diri saya. Pelajaran dari kehilangan sahabat saya tadi mengobati luka saya karena kepulangan putra saya. Sejak hari itu saya tidak pernah menangis untuk putra saya….namun jika perasaan itu tiba2 muncul saya pasti berdoa. Mungkin doa yang sama dengan orang tua lain yang kehilangan anaknya.

Pembelajaran dari peristiwa perpisahan paling mengagumkan yang pernah saya alami adalah perpisahan dengan Ketut Mendra, kakek saya. Saya memang tidak ada di sisinya di detik-detik terakhir hidupnya. Namun perjalannya setelah nafas terkhirnya sampai raganya menjadi satu dengan semesta adalah sebuah pengalaman yang sangat indah menurut saya. Seperti kebanyakan orang Bali banyak sekali detail yang harus dipersiapkan menjelang pengabenan. Suatu siang saya, cucunya, mendapat tugas menyiapkan kemeja putih untuk ritual terkhirnya. Tugas itu saya iyakan…kapan lagi melakukan sesuatu untuk kakek. Saya ke pasar…sepanjang jalan orang2 mengenali saya sebagai cucunya…mereka turut berduka…bahkan sampai di kios tempat kemeja hendak saya beli, si empunya kios bertutur…bercerita tentang betapa ia sangat berterimakasih pada kakek karena dari Beliau, ia belajar berdagang….alkisah kakek saya memang pedagang…awalnya beliau buruh pemasang kancing baju…setelah bisa menjahit beliau akhirnya punya langganan….kiospun sewa…akhirnya punya sendiri….sampai mampu punya toko kain. Saya pikir kakek hanya gigih untuk keluarga namun di hari kepergiannya saya tahu kalau ia berguna untuk banyak orang.

Penggalan cerita kepergian kakek yang ini sudah pernah saya tulis sebelumnya…namun arsipnya tidak pernah saya simpan…jadi harus saya tulis ulang. Semasa hidupnya kakek memiliki teman setia….apalagi setelah nenek tidak ada.  2 ekor anjing Bali. Hari2 kakek selalu ditemani anjing2nya….tak jarang mereka nyaman meringkuk di kaki kakek setelah kenyang berbagi makanan menemani sore kakek menonton pertandingan bola favoritnya di tv. Sejak hari kepulangan kakek, dua anjingnya tidak mau makan….sehari sebelum kakek diaben ….1 anjing kesayangannya pun turut menyusul….menyususl kakek karena cuma kakeklah yang bisa merayunya untuk mau makan lagi….anjing kakek yang satu lagi selamat melewati masa kritis mogok makan setelah ia mau minum persis setelah kakek selesai dimandikan. Mungkin ini simbol kesetiaan….

Saya jadi ingat parwa terakhir dari Mahabarata…Yudistira melakukan perjalanan ke Gunung Mahameru bersama anjingnya setelah istri dan adik2nya syuhada dalam perjalanan. Sampai di puncak…Dewa Indra meminta Yudistira untuk memilih antara masuk surga tapi tidak bersama sang anjing atau tetap bersama peliharaan kesayangannya itu tapi gerbang surga tidak akan dibuka. Yudistira memilih anjingnya walaupun dengan konsekuensi tidak menyentuh surga…padahal surga adalah sebuah pencapaian bagi para Panca dan sang permaisuri  dalam menuntaskan perjalannya ke puncak giri. Ketika anjing yang dipilih….sontak sang anjing berubah menjadi Sang Hyang Dharma. Anjing yang dalam bahasa Bali diterjemahkan ASU merupakan akronim dari Asubha-SUbha Karma…perbuatan baik dan tidak baik….falsafah cerita ini adalah bahwa dalam perjalanannya kehidupan seseorang akan terus mambawa sang ASU sampai di gerbang kematiannya. Saya pikir itu cerita dari 18 episode Mahabarata yang  saya pelajari dari kecil….sampai pada hari saya mengingat cerita kakek dan 2 anjingnya….. nyata di depan mata…mungkin ini tanda dari pemilik hidup untuk mengingatkan saya, keluarga dan semua orang yang bersentuhan dengan cerita ini untuk selalu menanamkan kebaikan…menanamkan kesetiaan dalam setiap sendi laku, kata dan pikir.

Pelajaran terakhir dari cerita perpisahan dalam hidup saya, baru terjadi persis 1 minggu yang lalu. Ibu…nenek dari putri saya….dipanggil Hyang Kuasa…dari perjalanan hidupnya saya belajar…sakit fisik…sakit psikis…bukan jadi halangan untuk menyerah….masih ada celah untuk berserah…berharap hanya pada Hyang Maha Pemurah….selamat jalan Yangti Yula Djuhariah….

Kepulangan seseorang memang menjadi duka bagi semua yang ditinggalkan…duka karena kerinduan atas keterbatasan fisik untuk bertemu. Namun bukankah waktu akan mengobati rasa rindu itu….sembari merenung lebih dalam… bukankah sekarang Yang Maha Sempurnalah yang menjaga mereka….

 

*In memoriam Kak Mbah, Kakak Ara, Mas Kafid, Yangti Yula Djuhariah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s